- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Jakarta tidak pernah kehabisan cerita soal kuliner. Di balik deretan gedung tinggi dan hiruk-pikuk jalanannya, kota ini menyimpan banyak tempat makan yang tetap bertahan meski tren kuliner terus berganti. Dari warung kecil, restoran legendaris, hingga kedai yang usianya sudah puluhan tahun, semuanya punya pelanggan setia dengan alasan yang berbeda-beda.
Dari sekian banyak kuliner yang masih eksis, es krim legendaris Ragusa Jakarta menjadi salah satu nama yang selalu muncul dalam rekomendasi wisata kuliner. Mereka yang datang bukan hanya penasaran dengan rasanya, melainkan sebagian ingin kembali mengenang kenangan lama.
Di tengah trennya gelato dan es krim modern dengan berbagai rasa unik, Ragusa tetap mempertahankan resep serta konsep yang sudah dikenal sejak lama. Hal itu membuat saya penasaran dan akhirnya mencoba langsung es krim legendaris Ragusa Jakarta.
Saya ingin tahu, apakah tempat yang sudah menjadi ikon kuliner kota ini masih layak untuk dikunjungi, atau sekadar terkenal karena faktor nostalgianya. Namun, setelah mencicipi beberapa menu, Saya rasa jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak, melainkan ada banyak hal yang membuat Ragusa tetap menarik hingga sekarang.
Simak juga Review Mie Suit ala Gacoan, cocok untuk kamu yang tidak suka pedas.
Rasa yang Tetap Khas Meski Sederhana
Hal pertama yang saya rasakan saat menyantap es krim Ragusa adalah teksturnya. Es krim di sini berbeda dengan berbagai produk modern yang sangat creamy karena menggunakan banyak krim. Ragusa menawarkan tekstur yang lebih padat, halus, dan sedikit lebih ringan di mulut. Sensasinya mengingatkan pada es krim rumahan dengan bahan yang sederhana.
Saya pernah mencoba menu Es Krim Spaghetti, salah satu menu yang paling sering dipesan toko ini. Penyajiannya cukup unik karena es krim vanila dicetak menyerupai mie, lalu disiram saus cokelat dan ditaburi kacang. Warna putih dari es krim berpadu dengan saus cokelat pekat sehingga tampilannya memang mirip spaghetti, tetapi tetap menggugah selera.
Rasa vanilanya tidak berlebihan. Manisnya pas dan aroma susunya masih terasa jelas. Saus cokelat memberikan sentuhan sedikit pahit yang membuat keseluruhan rasa menjadi lebih seimbang. Kacang yang ditaburkan di atasnya juga menambah tekstur renyah.
Selain itu saya juga mencicipi rasa cokelat. Warnanya cokelat muda, bukan cokelat pekat seperti es krim premium saat ini. Rasanya cenderung lembut dengan aroma kakao yang ringan. Kalau kalian terbiasa dengan cokelat yang sangat intens, mungkin akan merasa rasanya sedikit kalem. Tapi itulah ciri khasnya.
Rasa moka juga cukup menarik. Aroma kopinya langsung terasa sejak suapan pertama, tetapi tidak sampai meninggalkan rasa pahit yang berlebihan. Warnanya cream kecokelatan dengan tekstur yang tetap lembut. Menu ini cocok untuk penggemar kopi yang ingin menikmati sesuatu yang ringan.
Varian stroberi memiliki warna merah muda yang natural. Rasanya segar dengan sentuhan asam yang tipis sehingga tidak seperti permen. Sementara rasa nougat menghadirkan kombinasi manis susu dengan aroma kacang yang cukup khas. Kalau menyukai rasa klasik, menu ini layak untuk dicoba.
Ada juga rasa Rum Raisin yang menjadi favorit banyak pelanggan lama. Meski menggunakan aroma rum, rasanya tetap lembut dengan tambahan kismis yang memberikan sensasi kenyal saat digigit. Perpaduan tersebut membuat setiap suapan sedikit berbeda dibanding varian lainnya.
Yang aku sukai dari Ragusa adalah semua rasa tidak berlebihan, rasanya benar-benar pas di lidah. Manisnya dijaga sehingga lidah tidak cepat enek. Setelah habis satu porsi pun masih nyaman dan tidak membuat tenggorokan berat.
Harga Menu yang Masih Masuk Akal untuk Tempat Bersejarah
Salah satu alasan banyak orang tetap datang ke Ragusa adalah harga yang masih tergolong ramah dibanding pengalaman yang didapatkan. Memang harganya sudah tidak semurah beberapa tahun lalu, tapi masih masuk akal jika melihat nama besar dan sejarah panjang tempat ini.
Untuk es krim cokelat, moka, vanila, nougat, stroberi, maupun rum raisin, harga satu scoop umumnya berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp45.000 tergantung pilihan penyajian. Kalau ingin mencoba menu yang lebih lengkap seperti Es Krim Spaghetti atau Banana Split, kisaran harganya sekitar Rp45.000 hingga Rp60.000.
Pilihan minumannya juga sederhana. Teh manis dibanderol sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000. Es teh berada di kisaran harga yang sama. Kopi hitam sekitar Rp18.000 sampai Rp25.000, sedangkan minuman ringan botol biasanya dijual mulai Rp15.000. Tidak banyak pilihan minuman kekinian, tetapi rasanya memang sesuai dengan konsep klasik yang dipertahankan.
Menurutku, harga segitu cukup sepadan dengan rasanya. Harga yang diberikan dengan menu yang dihidangkan rasanya sebanding. Seporsi es krimnya padat, creamy, dan nggak bikin enek.
Tapi, kalau tujuan kalian mencari es krim dengan topping melimpah atau tampilan yang sangat modern, Ragusa mungkin bukan tempat yang tepat. Tempat ini lebih mengutamakan cita rasa klasik daripada dekorasi yang berlebihan.
Temukan juga Makanan Khas Indonesia yang cocok dijadikan ide Bisnis.
Masih Worth It atau Hanya Sekadar Nostalgia?
Setelah menghabiskan beberapa menu, saya mulai memahami kenapa es krim legendaris Ragusa Jakarta tetap bertahan sampai sekarang. Rahasianya bukan karena menghadirkan rasa yang spektakuler, melainkan karena konsisten mempertahankan karakter yang sudah dikenal sejak lama.
Suasana di dalam restoran juga memberikan nilai tambah. Yakni interior lawas, kipas angin besar, hingga meja kayu yang sederhana menciptakan pengalaman yang sulit ditiru di tempat makan modern lainnya. Saat menikmati es krim di sana, kebanyakan orang tidak terburu-buru. Mereka datang untuk duduk lebih lama, mengobrol, dan menikmati suasana.
Kalau dibandingkan dengan gelato premium, tentunya tekstur Ragusa berbeda. Gelato biasanya lebih creamy dan pilihan rasanya jauh lebih banyak. Namun Ragusa tidak mencoba menjadi seperti itu. Mereka tetap setia dengan resep klasik yang membuat pelanggan lama ingin kembali lagi.
Saat banyak tempat berlomba menghadirkan menu viral setiap beberapa bulan, mereka tetap mempertahankan menu andalan yang sudah dikenal puluhan tahun. Konsistensi seperti ini justru menjadi daya tarik tersendiri.
Kalau datang bersama keluarga, tempat ini juga menyenangkan karena pilihan rasanya cukup aman untuk semua usia. Anak-anak biasanya menyukai vanila atau cokelat, sementara orang dewasa sering memilih moka atau rum raisin. Jadi setiap orang bisa menemukan rasa favoritnya masing-masing.
Setelah mencoba sendiri, Saya rasa es krim legendaris Ragusa Jakarta memang masih worth it untuk dikunjungi. Bukan semata-mata karena rasanya, melainkan juga karena pengalaman menikmati es krim klasik yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Teksturnya lembut, rasa setiap variannya khas, tingkat kemanisannya pas, dan suasana lawasnya menjadi pelengkap yang membuat kunjungan lebih berkesan. Kalau suatu hari kamu sedang berada di Jakarta dan ingin menikmati kuliner dengan cerita panjang di baliknya, maka Ragusa sangat layak masuk dalam daftar destinasi yang patut kalian coba.

Comments
Post a Comment